Hari semakin beranjak sore. Namun, semakin waktu mendekti petang, justru malah makin banyak warga yang datang ke lapangan. Bersama dengan mulai berdatanganya penonton ke lapangan, lomba sepak bola yang tadinya diramaikan oleh anak-anak, mulai berganti diramaikan oleh orang dewasa. Hebatnya, saya pun dimasukan oleh teman saya ke dalam tim.

mas maneh maen we. Te nanaon da. Kurang ey pemaenna, wega temen saya. Saya tidak bisa menolak, tidak juga bisa mengiyakan. Namun, pada akhirnya saya tetep ikut bagian di dalamnya.

Lalu saya memakai sepatu, dan mengenakan pakaian seadanya, saya pun ikut menjadi bagian dari tim Tarkam sore itu. Bisa disebut saya adalah pemain biasa, yang saya tahu saat itu hanya bermain bola dan berbahagia bersama pemuda lain yang juga bermain bersama saya.

Waktu memang kerap berlalu begitu cepat ketika kita melakuan sesuatu yang kita sukai. Itulah juga yang saya rasakan ketika ketika menjadi bagiaan sesaat dari tim tarkam dalam pertandingan di lapangan cinangling tersebut. Tak terasa waktu pun beranjak mendekati waktu magrib adalah waktunya menyudahi pertandingan. Tak lama setelah itu, azan magrib pun berkumandang. Waktu bermain bola telah usai. Semua pun mulai kembali ke panduan masing-masing. Keringat membasahi tubuh pemuda-pemuda yang tadi bermain bersama saya. Ada sebuah senyum tersungai di wajah saya, menandakan sebuah kepuasan tersendiri yangmungkin belum lagi saya rasakan sejak sekian lama. Sebuah atmosfer sepak bola tradisional yang apa adanya, tanpa ada embel-embel tertentu. Sepak bola yang, hanya bisa dihentikan oleh waktu magrib semata. Rasa-rasanya, seperti kembali ke masa kecil.

303 Views

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *