Sambil mengendarai sepeda motor mengikuti gerakan matahari ke ufuk Barat, saya menyadari hari sudah sore. Saya ingat kembali, dalam beberapa kurun waktu terakhir, memang saya pulang dari bekerja sesore ini. Saya seorang ibu yang pulang bekerja ketika warna langit semakin pudar, cahaya jingga membias, awan bercampur antara putih dengan kelabu, dan bulan pucat sudah memperlihatkan keberadaannya.

Pada waktu sore, petani sudah beranjak dari ladang, para pegawai berhamburan keluar dari gerbang, burung-burung terbang pulang ke sarangnya. Rupanya bukan hanya saya yang telah mengakhiri aktivitas bekerja. Bukan hanya saya yang sedang dalam perjalanan pulang menuju rumah.

Di sepanjang jalan, saya bisa melihat banyak di antara para pekerja yang berseliweran adalah wanita. Bukan tak ada laki-laki, tetapi jumlah pekerja didominasi oleh wanita. Di antara mereka ada yang berjalan kaki, membawa kendaraan sendiri, berboncengan, naik kendaraan umum, atau berjejalan di dalam bus jemputan.

Para wanita pekerja itu memenuhi warung-warung nasi, gerobak jajanan serta penjaja makanan dan minuman di pinggiran jalan untuk dibungkus lalu dibawa pulang. Bungkusan makanan itu bukan hanya untuk dikonsumsi untuk dirinya, akan tetapi juga untuk anggota keluarga yang ada di rumah. Wanita pekerja yang juga merupakan seorang ibu tidak sempat membuat masakan untuk anak dan suaminya sehingga menyempatkan diri membeli makanan untuk keluarga.

Anak-anak masih asyik bermain dan berkeliaran saat para pekerja tiba di rumahnya. Anak-anak berlarian pulang melihat orang dewasa yang dikenalnya pulang. Anak-anak mencari sumber air untuk mencuci kaki dan tangannya sebelum memasuki rumah. Tak lama terdengar suara ibu meminta anaknya untuk bergegas mandi, atau mengomeli pakaian kotor anaknya yang tidak disimpan di tempatnya. Ternyata wanita pekerja yang juga seorang ibu itu terburu-buru mencuci pakaian anggota keluarganya.

Anak-anak berceloteh mengenai kesehariannya di sekolah atau menceritakan apa yang dilaluinya saat bermain dengan teman-temannya. Sesekali ibunya mengomentari atau tertawa kecil. Sedikit lebih larut, suara ibu terdengar kesal mendorong anaknya merapikan kembali mainan yang berantakan di lantai, terkadang diikuti suara anak yang menangis atau merengek agar ibunya saja yang merapikan mainannya.

Berbeda lagi ceritanya jika sang ibu bekerja lembur. Ibu yang kerja lembur di kantor baru bisa pulang di malam hari atau setelah pekerjaannya selesai. Ibu yang pekerjaan lemburnya bisa dibawa ke rumah, kehilangan rutinitasnya akan pekerjaan rumah tangga. Ibu baru bisa lepas dari tugas pekerjaannya saat hari telah larut dan anak-anak telah beristirahat di kamarnya masing-masing sementara pekerjaan rumah tangga yang tertunda masih menunggu untuk dikerjakan. Ibu kadang hanya bisa memandang wajah anaknya yang tertidur pulas tanpa bisa berinteraksi secara langsung.

Pengasuhan anak dipercayakan kepada sanak saudara, kepada orang tua atau mertua, bahkan pada asisten rumah tangga. Ibu yang bekerja memeriksa keadaan anak melalui gadget yang dipegang oleh anak atau pengasuhnya. Anak didesak untuk belajar dari sekolah, madrasah atau tempat les anak, sementara ibu menerima laporan perkembangannya melalui gadget selagi bekerja.

Waktu dan tangan ibu sudah tidak banyak digunakan untuk menanak nasi, memasak lauk pauk, dan mencuci pakaian, seolah perannya sebagai ibu meredup. Kemajuan teknologi mempermudah terselesaikannya pekerjaan rumah tangga tanpa harus menyita waktu dan menggunakan tangan ibu dalam waktu lama, sehingga ibu bisa melakukan aktivitas lain seperti menjalin interaksi dan komunikasi dengan anggota keluarga terutama anak.

Peran ibu di rumah tangga yang meredup diiringi pula dengan bersinarnya peran ibu pada sisi yang lain. Menurunnya sentuhan ibu pada pengerjaan tugas rumah tangga, terbantu dengan adanya kemajuan teknologi pada inovasi alat rumah tangga. Bersinarnya peran ibu dalam upaya meningkatkan kesejahteraan ekonomi keluarga tidak serta merta menghilangkan peran ibu dalam pendidikan anak secara menyeluruh. Barangkali optimalisasi pemanfaatan teknologi bisa digunakan oleh ibu bukan hanya untuk memeriksa perkembangan anak tetapi juga untuk menjaga komunikasi antara ibu dengan anggota keluarga lainnya khususnya anak.

Ada ibu yang bekerja untuk membantu suaminya memenuhi kebutuhan keluarga. Ada ibu yang justru menjadi kepala rumah tangga mencari nafkah untuk anak-anaknya. Selain itu, ada juga ibu yang bekerja untuk aktualisasi dirinya, bukan sekedar terlilit tuntutan ekonomi. Ibu yang manapun itu, keputusan untuk bekerja dan memiliki keluarga yang harus diurus bukanlah hal yang mudah.

Setiap pencapaian pasti diiringi dengan adanya pengorbanan. Pengorbanan ibu yang bekerja dalam membantu perekonomian keluarga sambil terus melakukan pekerjaannya sebagai ibu rumah tangga dengan berbagai pilihan strategi yang dilakukan tentu tidak mudah. Ibu bekerja sejak pagi hingga sore hari pulang dengan membawa penat, tetapi tetap berupaya untuk tidak kehilangan perannya sebagai ibu yang mengelola rumah tangga. Peran ibu seolah telah meredup bila dipandang dari sisi tertentu. Tapi bila dilihat dari sisi lain, peran ibu dalam keluarganya bersinar. Daripada melihat dari sisi kekurangannya, alangkah lebih baik jika kita coba melihat dari sisi yang lain. Saya berharap peran dan upaya apapun yang dijalankan oleh ibu, meski ia terlihat meredup ia juga bisa bersinar seperti bintang di malam hari. Selamat berjuang dan tetap semangat para ibu di mana pun berada.

237 Views

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *