Pada saat seseorang memilih gaya busana yang akan dikenakan, tentunya pasti sudah mempertimbangkan dampak apa yang akan mempengaruhi “nilai” dirinya apabila menggunakan gaya tersebut. Sebagai contoh, ada yang memilih gaya busana dengan mempertimbangkan nilai estetis, orang seperti ini cenderung akan memilih busana yang dimana warna dan model menjadi fokus utama busana yang dikenakannya. Keindahan yang dihasilkan dari perpaduan yang menurutnya tepat, akan dipandang sebagai kepuasan dalam mengenakan pakaian.  

Lalu ada yang menetapkan standar nilai ekonomi, orang seperti ini cenderung akan memilih busana sesuai standar harga. Apabila ia menetapkan standar nilai yang tinggi, maka ia akan menempatkan kualitas dan harga menjadi prioritas utama dalam memilih busana, meskipun didapati ada busana dengan bentuk atau corak yang sama tetapi dengan merek dan harga yang lebih “rendah”, orang seperti ini cenderung tidak akan memilihnya.

Sebenarnya, untuk memahami pengaruh nilai pada pemilihan busana bukanlah satu hal yang mudah. Karena dalam beberapa kasus, nilai terkadang menimbulkan permasalahan. Sehingga perlu adanya pertimbangan ketika memilih busana seperti apa yang akan dikenakan sebagai prioritas. Sebagai contoh ada seseorang yang mempunyai pertimbangan tinggi terhadap pakaian apa yang akan dikenakannya, sederhana atau mewah. Hal tersebut dipengaruhi karena lingkungan sekitarnya mayoritas memilik gaya busana yang mewah, tetapi keuangan yang dimilikinya bisa dibilang kurang mampu untuk menyesuaikan.

Selanjutnya adalah mengenai pemilihan busana melalui aspek pendekatan psikologi sosial, yang dimana suatu busana berperan dalam membentuk karakter penggunanya. Hal ini dikaitkan dengan fungsi yang melakat pada busana tersebut.

Fungsi busana sebagai diferensiasi, pada kasus ini busana menjadi salah satu aspek pembeda pada individu satu dengan lainnya, atau kelompok satu dengan kelompok lainnya, sehingga fungsi busana cenderung memberi indentitas yang khas pada pemakainya. Sebagai contoh, pengguna hijab menunjukan identitas pemakainya sebagai penganut agama Islam. Atau fungsi busana yang menunjukkan identitas penggunanya dalam bidang pekerjaan. Sebagai contoh pakaian tentara, pakaian dokter, pakaian polisi dsb.

Selanjutnya adalah fungsi busana sebagai citra dari perilaku pemakaiannya, sebagai contoh seorang murid yang diwajibkan mengenakan seragam formal agar kepribadian mereka terbentuk melalui perilaku yang sesuai dengan apa yang dikenakannya. Contoh lainnya, busana yang dikenakan oleh komunitas punk. Melalui busana yang mereka kenakan yaitu dengan menerapkan prinsip kebebasan dalam berbusana, secara tidak langsung hal tersebut memproklamirkan bahwa tidak ada aturan yang dapat membatasi mereka.

Lalu ada fungsi emosi, pada dasarnya busana itu merupakan bagian yang tak terpisahkan dengan kehidupan manusia, dilihat secara empiri dapat dibuktikan bahwa busana mencerminkan emosi pemakainya, dan pada saat yang sama juga mempengaruhi emosi orang lain yang melihatnya. Sebagai contoh seorang yang mengenakan busana sesuai dengan selera dan keinginannya, maka ia akan cenderung merasa nyaman dan percaya diri. Sebaliknya, apabila seseorang mengenakan busana yang tidak sesuai dengan kondisi badan atau selera, maka secara tidak disadari akan menimbulkan perasaan tidak nyaman dan kurang percaya diri. Contoh lainnya, adalah ketika seseorang memakai seragam suatu intansi atau profesinya, maka secara tidak langsung akan menimbulkan rasa bangga, etos kerja yang tinggi serta kepercayaan yang tinggi.

Tetapi seringkali, pada kenyataanya pesan yang hendak kita sampaikan melalui busana yang dikenakan, malah menimbulkan kesalahpahaman. Hal tersebut dilatarbelakangi karena, bisa jadi nilai pakaian yang dikenakan tidak sesuai atau bertolak belakang dengan nilai yang berlaku di masyarakat.

Namun demikian, apapun alasannya, pemilihan suatu busana merupakan hak istimewa setiap orang. Karena pada akhirnya busana yang ia kenakan tersebut akan menjadi “self-esteem” (penghargaan diri) yang menyertai setiap langkah penggunanya dalam menjalani kehidupan.

Sumber Referensi: Wiana, W. (2016). Fenomena Desain Fesyen. Bandung: Gapura Press

286 Views

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *